NATO menyatakan sedang mempelajari secara rinci keputusan Amerika Serikat untuk menarik sekitar 5.000 pasukan dari Jerman. Kebijakan ini diperintahkan Presiden Donald Trump di tengah ketegangan dengan Kanselir Jerman, Friedrich Merz.
Juru bicara NATO, Allison Hart, mengatakan aliansi tersebut tengah bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk memahami detail keputusan terkait penempatan pasukan di Jerman. Menurutnya, langkah ini sekaligus menegaskan perlunya negara-negara Eropa meningkatkan investasi pertahanan.
“Penyesuaian ini menegaskan kebutuhan bagi Eropa untuk terus berinvestasi lebih banyak dalam pertahanan dan mengambil porsi tanggung jawab yang lebih besar atas keamanan bersama,” ujar Hart.
Pemerintah Jerman berupaya meredam dampak politik dari keputusan tersebut. Kementerian Pertahanan Jerman menyebut rencana penarikan pasukan sebagai langkah yang “sudah diperkirakan” dan menjadi pengingat bahwa Eropa perlu memperkuat pilar pertahanannya sendiri dalam NATO.
“Sudah diperkirakan bahwa Amerika Serikat mungkin menarik pasukan dari Eropa, termasuk Jerman,” kata juru bicara kementerian tersebut. Saat ini, sekitar 40.000 personel militer AS masih ditempatkan di Jerman.
Trump pada Sabtu (2/5/2026) menyatakan pengurangan pasukan bisa lebih besar dari angka yang diumumkan. “Kami akan memangkas jauh, dan kami akan mengurangi lebih banyak dari 5.000,” ujarnya kepada wartawan di Florida.
Sejumlah pejabat AS mengindikasikan bahwa satu brigade tempur yang saat ini ditempatkan di Jerman akan ditarik, sementara rencana penempatan batalion artileri jarak jauh dibatalkan.
Data dari pusat tenaga kerja pertahanan AS menunjukkan sekitar 68.000 personel aktif ditempatkan secara permanen di pangkalan militer di Eropa. Penarikan lebih lanjut berpotensi memicu konflik dengan Kongres AS, yang sebelumnya menetapkan jumlah minimum 76.000 personel di kawasan tersebut.
Kekhawatiran di Eropa tidak hanya terkait penempatan pasukan. Sejumlah ibu kota Eropa juga mencermati kemungkinan penundaan pengiriman senjata dari AS. Pemerintahan Trump dilaporkan meminta sekutu, termasuk Inggris dan negara-negara Eropa Timur, bersiap menghadapi keterlambatan pengiriman karena Pentagon memprioritaskan pengisian kembali stok yang digunakan dalam perang Iran.
Dalam pergeseran fokus tersebut, Departemen Luar Negeri AS menyetujui penjualan senjata senilai lebih dari US$8,6 miliar kepada sekutu di Timur Tengah, termasuk Israel, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.
Hubungan trans-Atlantik disebut semakin tegang setelah sekutu NATO menolak terlibat dalam perang melawan Iran yang dimulai pada akhir Februari. Merz sebelumnya mengkritik kebijakan Trump dan menyebut Amerika Serikat “dipermalukan” oleh Iran. Trump membalas kritik itu dengan mengatakan Merz “tidak tahu apa yang ia bicarakan”. Setelah itu, wacana penarikan pasukan disebut menguat.
Dalam wawancara dengan majalah Der Spiegel, Merz mengatakan ia telah menyampaikan kepada Trump alasan Jerman menganggap perang di Iran sebagai langkah yang keliru, sembari tetap berupaya menjaga hubungan pribadi yang baik dengan presiden AS.
Upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik Iran dilaporkan masih menemui jalan buntu. Trump sebelumnya menyatakan “tidak puas” dengan proposal Iran yang mengusulkan pencabutan blokade Selat Hormuz oleh kedua pihak secara sementara.
Situasi kawasan juga bertambah kompleks setelah serangan udara Israel kembali terjadi di Lebanon selatan. Sejumlah laporan menyebut serangan tersebut menewaskan beberapa warga sipil dan menargetkan infrastruktur kelompok Hizbullah.
Di dalam negeri AS, keputusan penarikan pasukan turut menuai kritik dari Partai Republik. Senator Roger Wicker dan anggota DPR Mike Rogers menyatakan kekhawatiran atas rencana menarik brigade AS dari Jerman. Mereka memperingatkan bahwa pengurangan pasukan dapat melemahkan daya tangkal militer dan mengirim sinyal yang keliru kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Keduanya juga menilai setiap perubahan signifikan terhadap penempatan pasukan AS di Eropa seharusnya melalui kajian dan konsultasi dengan Kongres serta sekutu.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik Iran tidak hanya berdampak pada Timur Tengah, tetapi juga memicu dinamika baru dalam hubungan keamanan global antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa.