Pertanyaan itu terdengar ganjil, hampir seperti lelucon.
Di konferensi pers Pentagon tentang perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, seorang reporter bertanya: apakah Iran memakai “lumba-lumba bunuh diri”.
Jawaban pejabat Amerika justru menambah gema.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, berkata ia tak dapat mengonfirmasi atau menyangkal “lumba-lumba bunuh diri” milik mereka, namun menegaskan Iran tidak memiliki hal seperti itu.
Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, mengaku belum mendengar laporan tersebut.
Ia bahkan menyamakannya dengan kisah “hiu dengan sinar laser”.
Di Indonesia, frasa “lumba-lumba kamikaze” segera hidup sebagai kata kunci.
Ia memantul di linimasa, grup percakapan, dan ruang-ruang komentar, lalu menanjak sebagai tren.
Padahal, di balik bunyi sensasionalnya, ada lapisan sejarah, strategi, dan etika yang jauh lebih muram.
-000-
Mengapa isu ini menjadi tren
Alasan pertama adalah daya kejut narasi.
Perang biasanya dibayangkan lewat rudal, drone, atau kapal induk.
Ketika hewan cerdas seperti lumba-lumba disebut sebagai senjata, publik seketika merasa ngeri sekaligus penasaran.
Alasan kedua adalah konteks geopolitik yang sedang panas.
Pernyataan itu muncul saat pembicaraan mengarah pada blokade angkatan laut dan ketegangan di Selat Hormuz.
Ketika jalur energi dan perdagangan global disebut, perhatian publik otomatis melebar.
Alasan ketiga adalah pola konsumsi informasi era digital.
Potongan tanya-jawab di konferensi pers lebih mudah viral dibanding penjelasan panjang tentang strategi maritim.
Istilah yang aneh, singkat, dan visual, sering mengalahkan detail yang rumit.
-000-
Dari pertanyaan Pentagon ke laporan media
Pertanyaan di Pentagon merujuk pada artikel The Wall Street Journal.
Artikel itu menyebut Iran mencari cara menghadapi blokade angkatan laut AS.
Disebut pula pernyataan pejabat Iran tentang kemungkinan memakai senjata yang belum pernah digunakan.
Mulai dari kapal selam hingga lumba-lumba pembawa ranjau.
Dalam laporan yang sama, ada ancaman memutus kabel serat optik di Selat Hormuz.
Tindakan semacam itu, jika terjadi, berpotensi mengganggu lalu lintas internet global.
Di titik ini, “lumba-lumba” bukan sekadar hewan.
Ia menjadi simbol: bahwa perang modern mencari celah, bahkan lewat cara yang tampak tak masuk akal.
-000-
Sejarah yang tidak sepenuhnya fiksi
Yang membuat isu ini sulit dipatahkan adalah sejarahnya.
BBC pernah melaporkan pada 8 Maret 2000 bahwa Iran membeli lumba-lumba bunuh diri.
Menurut laporan tersebut, lumba-lumba terlatih Angkatan Laut Soviet dijual kepada Iran.
Namun, apa persisnya misi mereka di Teluk Persia saat itu tidak jelas.
Pelatihan itu disebut dilakukan oleh para ahli Rusia.
Tujuannya menyerang kapal dan penyelam musuh, memakai tombak di punggung atau menyeret penyelam ke permukaan.
Ketika pendanaan berhenti, sebagian hewan dipindahkan ke fasilitas swasta.
Mereka dijadikan pertunjukan wisata.
Pelatih utamanya disebut bernama Boris Zhurid.
Ia memulai karier sebagai perwira kapal selam, lalu lulus dari akademi medis.
Zhurid mengatakan ia menjual hewan-hewan itu karena tak mampu lagi membiayai pakan dan perawatan.
Ia menggambarkan obat-obatan mahal yang habis, serta ketiadaan ikan dan suplemen gizi.
Kalimatnya terdengar seperti pembelaan, sekaligus pengakuan pahit.
-000-
Perpindahan 27 hewan dan satu pertanyaan etika
Laporan BBC menyebut total 27 hewan dipindahkan dari Sevastopol di Krimea ke Teluk Persia.
Termasuk walrus, singa laut, anjing laut, dan seekor paus beluga putih, bersama lumba-lumba.
Mereka diangkut dengan pesawat kargo.
Di sini, perang bertemu logistik, dan logistik bertemu nasib makhluk hidup.
Ketika negara berkonflik, yang berpindah bukan hanya pasukan dan senjata.
Yang berpindah juga bisa makhluk yang tak pernah memilih untuk terlibat.
Etika menjadi pertanyaan yang menggantung.
Bukan hanya soal efektivitas, tetapi soal batas kemanusiaan ketika teknologi dan strategi buntu.
-000-
Amerika Serikat dan lumba-lumba untuk ranjau
Sejarah juga mencatat Amerika Serikat melatih lumba-lumba militer.
Program mamalia laut AS disebut berjalan di San Diego, California.
Setelah invasi Irak pada 2003, Angkatan Laut AS menggunakan lumba-lumba terlatih di Teluk Persia.
Tugasnya mengidentifikasi dan membersihkan ranjau serta ranjau tiruan.
Dalam narasi yang beredar, lumba-lumba bahkan disebut mampu membawa ranjau yang meledak saat menyentuh lambung kapal.
Jika ini benar sebagai kemampuan yang pernah diteliti, maka “fantastis” berubah menjadi “mungkin”.
Dan kata “mungkin” sering cukup untuk menghidupkan ketakutan.
-000-
Klaim, bantahan, dan memoar Rafsanjani
Mantan presiden Iran Akbar Hashemi Rafsanjani menulis catatan tentang 2 April 2000 dalam memoarnya, Reforms in Crisis.
Ia menyebut kunjungan ke Park Hotel di Pulau Kish.
Ia menulis kolam-kolam hewan laut hampir selesai.
Ia juga menyebut walrus, singa laut, anjing laut, dan lumba-lumba diimpor dari Ukraina.
Rafsanjani mengatakan orang Ukraina yang sebelumnya mengelola hewan ikut datang.
Mereka menyiapkan fasilitas dan melatih orang Iran.
Ia menulis ada demonstrasi keterampilan hewan-hewan itu.
Namun ia membantah laporan media Barat yang mengklaim hewan itu dilatih untuk ranjau.
Ia menyebut Iran mengajukan gugatan, dan pengadilan akan bertindak.
Di titik ini, isu lumba-lumba berada di wilayah kabut.
Ada catatan pembelian dan pemindahan.
Ada bantahan tentang tujuan militer.
Dan ada perang informasi yang membuat kabut itu makin tebal.
-000-
Isu besar bagi Indonesia: jalur laut, energi, dan informasi
Mengapa publik Indonesia perlu peduli, selain karena unsur viralnya.
Selat Hormuz adalah jalur strategis yang sering dikaitkan dengan stabilitas energi global.
Indonesia, sebagai negara yang ekonominya terhubung pada harga energi dan perdagangan, ikut merasakan getarannya.
Ketika ketegangan maritim meningkat, pasar membaca risiko.
Risiko itu bisa menjalar menjadi kecemasan biaya hidup.
Selain energi, ada dimensi kabel serat optik yang disebut dalam laporan.
Gangguan pada infrastruktur komunikasi global mengingatkan bahwa perang modern menargetkan konektivitas.
Indonesia, yang mendorong ekonomi digital, rentan pada gangguan jaringan lintas batas.
Isu lumba-lumba, pada akhirnya, adalah pintu masuk ke isu yang lebih besar.
Yakni keamanan maritim, ketahanan rantai pasok, dan perlindungan infrastruktur kritis.
-000-
Kerangka riset: ketika hewan menjadi instrumen negara
Berita ini memaksa kita memikirkan ulang hubungan manusia dan hewan dalam konflik.
Dalam kajian etika perang, ada prinsip pembedaan dan proporsionalitas.
Prinsip itu dirancang untuk mengurangi penderitaan yang tak perlu.
Ketika hewan dilatih untuk tugas berbahaya, muncul pertanyaan tentang agensi.
Hewan tidak menandatangani kontrak, tidak memahami tujuan politik, dan tidak bisa menolak.
Riset perilaku hewan selama puluhan tahun juga menunjukkan lumba-lumba adalah mamalia cerdas.
Dalam teks Rafsanjani sendiri, lumba-lumba disebut cerdas dan menjalankan perintah dengan baik.
Kecerdasan itu, di satu sisi, membuat mereka efektif untuk tugas tertentu.
Di sisi lain, kecerdasan membuat eksploitasi terasa lebih mengusik.
Perang lalu menjadi cermin: sejauh apa negara bersedia meminjam tubuh makhluk lain demi tujuan strategis.
-000-
Rujukan luar negeri yang menyerupai: program mamalia laut dan spekulasi Korea Utara
Kasus yang sering dirujuk adalah program mamalia laut militer Amerika Serikat.
Fakta keberadaan program itu membuat isu serupa di tempat lain lebih mudah dipercaya.
Selain itu, ada laporan tidak resmi tentang upaya serupa oleh negara lain.
Termasuk Korea Utara, yang disebut memiliki kandang penampungan lumba-lumba berdasarkan citra satelit.
Rusia juga disebut meningkatkan penggunaan lumba-lumba di pelabuhan Sevastopol sejak perang di Ukraina.
Rangkaian rujukan ini membentuk pola.
Ketika negara merasa terancam di laut, mereka mencari solusi yang tak lazim.
Dan ketika solusi itu menyentuh hewan, publik global bereaksi keras.
-000-
Mengapa narasi “kamikaze” begitu memikat
Kata “kamikaze” membawa bayangan pengorbanan paksa.
Ia menempel pada imajinasi tentang misi satu arah.
Ketika disandingkan dengan lumba-lumba, efeknya berlipat.
Publik melihat kontradiksi: makhluk yang diasosiasikan dengan kecerdasan dan keriangan, dipaksa masuk ke logika kematian.
Kontradiksi ini memicu diskusi, kemarahan, juga rasa ingin tahu.
Namun kontradiksi juga bisa mengaburkan fokus.
Perdebatan bisa berhenti pada sensasi, bukan pada struktur konflik yang membuat ide semacam itu muncul.
-000-
Rekomendasi: bagaimana isu ini sebaiknya ditanggapi
Pertama, publik perlu menahan diri dari kesimpulan instan.
Dalam berita ini, ada pernyataan pejabat AS yang tidak mengonfirmasi, serta catatan sejarah yang tidak selalu menjelaskan tujuan.
Ruang kosong informasi mudah diisi spekulasi.
Kedua, media dan pembaca perlu membedakan antara “pernah ada program” dan “sedang digunakan dalam perang tertentu”.
Sejarah pelatihan tidak otomatis membuktikan operasi aktif hari ini.
Ketiga, pembuat kebijakan dan akademisi di Indonesia dapat memakai isu ini sebagai momentum literasi keamanan maritim.
Bukan untuk meniru, melainkan untuk memahami perubahan watak konflik di laut.
Keempat, diskusi etika tidak boleh ditinggalkan.
Jika perang mendorong pemanfaatan hewan, maka standar kemanusiaan diuji di titik yang jarang dibicarakan.
Kelima, perhatian seharusnya juga diarahkan pada infrastruktur kritis.
Ancaman terhadap kabel serat optik, jika benar terjadi, menyentuh urat nadi ekonomi digital.
Indonesia perlu memperkuat kesadaran bahwa keamanan nasional kini juga soal konektivitas.
-000-
Penutup: di antara kabut, kita memilih kejernihan
Kisah lumba-lumba kamikaze bergerak di antara fakta, rumor, dan sejarah yang tak pernah benar-benar selesai.
Ia mengingatkan bahwa perang selalu mencari bahasa baru untuk kekerasan lama.
Dan ketika bahasa itu meminjam tubuh makhluk lain, nurani publik terpaksa terbangun.
Di tengah kabut informasi, sikap paling dewasa adalah menuntut bukti, menjaga empati, dan memikirkan dampak yang lebih luas.
Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya siapa menang hari ini.
Yang dipertaruhkan adalah batas-batas kemanusiaan yang kita rawat bersama.
“Kejernihan berpikir adalah bentuk keberanian, terutama ketika dunia mengundang kita untuk bereaksi tanpa memahami.”

