Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menyerukan para pemimpin Asia Tenggara untuk bersatu dan tetap teguh di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik saat secara resmi membuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, Jumat.
Dalam sambutan pembuka di hadapan para pemimpin ASEAN, Marcos menyatakan Asia Tenggara tengah menghadapi “momen yang menentukan” di tengah disrupsi dan konflik global yang terus berdampak pada ekonomi, kehidupan masyarakat, serta stabilitas kawasan.
“Kita bertemu di tengah tantangan besar yang terjadi di kawasan kita dan lebih jauh lagi,” kata Marcos, seraya menyoroti dampak ketegangan di Timur Tengah terhadap ASEAN.
Ia menegaskan agenda ASEAN harus tetap berjalan. “Tugas-tugas ASEAN harus dilanjutkan, bukan karena tantangannya, tetapi karena waktu menuntut jawaban kita atas tantangan tersebut,” ujarnya.
Marcos juga menyampaikan bahwa pelaksanaan rangkaian pertemuan ASEAN disesuaikan, antara lain dengan mengurangi kegiatan non-esensial dan mengubah format sejumlah agenda menjadi pertemuan daring. Penyesuaian ini dilakukan untuk mengatasi dampak tekanan energi dan ekonomi yang meningkat akibat konflik di Timur Tengah.
Meski demikian, ia menekankan ASEAN tetap berkomitmen menjaga kerja sama dan menyesuaikan respons regional melalui pertemuan para menteri luar negeri serta menteri ekonomi, pertanian, dan energi.
Menurut Marcos, kekuatan ASEAN terletak pada persatuan dan kerja sama, terutama pada masa ketidakpastian. “ASEAN senantiasa mendapatkan kekuatannya bukan dari keseragaman, tetapi dari persatuannya,” katanya.
Sebelum pembukaan KTT, Presiden Marcos dan Ibu Negara Liza Araneta-Marcos menyambut para pemimpin ASEAN dan pendamping yang tiba di lokasi pertemuan. Para pemimpin yang hadir antara lain Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, Presiden RI Prabowo Subianto, Perdana Menteri Laos Sonexay Siphandone, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao, serta Perdana Menteri Vietnam Le Minh Hung.
Myanmar diwakili oleh Sekretaris Tetap Kementerian Luar Negeri U Hau Khan Sum.