BERITA TERKINI
KSSK: Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Tetap Terjaga di Tengah Konflik Timur Tengah dan Volatilitas Global

KSSK: Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Tetap Terjaga di Tengah Konflik Timur Tengah dan Volatilitas Global

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah dan volatilitas pasar keuangan internasional. Penilaian ini didukung oleh kinerja ekonomi domestik yang masih kuat, inflasi yang terkendali, serta kondisi pasar modal dan perbankan yang dinilai tetap solid.

Sepanjang Triwulan I 2026, pasar modal domestik bergerak dinamis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.048,22 pada 31 Maret 2026. Secara kuartalan IHSG terkoreksi 18,49%, namun masih mencatatkan pertumbuhan 8,26% secara tahunan. Memasuki Mei 2026, IHSG kembali menguat ke level 7.057,11 per 5 Mei 2026. Di sisi pendanaan, penghimpunan dana di pasar modal tercatat mencapai Rp59,35 triliun secara year to date.

Dari sektor perbankan, KSSK mencatat pertumbuhan kredit sebesar 9,49% secara tahunan (yoy) menjadi Rp8.659 triliun pada Maret 2026. Kualitas aset dinilai tetap terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) gross sebesar 2,1% dan NPL net 0,8%. Perbankan juga dinilai memiliki ketahanan modal yang kuat, dengan rasio kecukupan modal (CAR) berada di level 25,09%. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 13,55% yoy menjadi Rp10.230 triliun.

Dari sisi stabilitas harga, inflasi disebut masih terkendali dalam sasaran 2,5±1%. Inflasi April 2026 tercatat 2,42% yoy, turun dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 3,48% yoy. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menilai stabilitas harga didukung oleh pasokan pangan yang memadai, kebijakan subsidi energi, serta koordinasi pengendalian inflasi di tingkat pusat dan daerah.

Dalam ringkasan indikator Triwulan I 2026, KSSK mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% yoy. Neraca perdagangan pada Januari–Maret 2026 membukukan surplus US$5,5 miliar. Nilai tukar rupiah pada akhir Maret 2026 berada di Rp16.995 per dolar AS, sementara cadangan devisa tercatat US$148,2 miliar.

Dari sisi kebijakan, BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75% pada Februari hingga April 2026. BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp123,1 triliun hingga 4 Mei 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melanjutkan penguatan reformasi pasar modal, termasuk aspek transparansi free float, serta menetapkan roadmap ekosistem bulion 2026–2031. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) disebut memperkuat perlindungan simpanan dan persiapan penjaminan polis. KSSK dijadwalkan kembali menggelar rapat berkala pada Juli 2026.

Bagi pelaku pasar, KSSK menilai stabilitas inflasi dan perbankan mencerminkan ketahanan ekonomi domestik di tengah gejolak global. Meski demikian, faktor eksternal seperti arus modal asing dan stabilitas rupiah masih menjadi perhatian investor. Di sisi lain, penghimpunan dana pasar modal yang tetap tinggi menunjukkan minat pendanaan korporasi dinilai masih terjaga.

Secara keseluruhan, KSSK menyimpulkan sistem keuangan Indonesia berada dalam kondisi stabil di tengah meningkatnya risiko global. Ke depan, koordinasi kebijakan antara Pemerintah, BI, OJK, dan LPS dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan pasar, dengan perkembangan nilai tukar, aliran modal asing, serta dinamika geopolitik global tetap menjadi perhatian utama investor.