Isu “ijazah tak lagi sakral” menjadi perbincangan karena menyentuh urat nadi harapan banyak keluarga.
Selama puluhan tahun, gelar dianggap tiket paling aman menuju pekerjaan layak, pendapatan stabil, dan martabat sosial.
Ketika dunia kerja mengubah aturan main, yang berguncang bukan hanya sistem rekrutmen.
Yang ikut terguncang adalah keyakinan kolektif tentang arti sekolah, arti pengorbanan orang tua, dan arti “berhasil” di Indonesia.
-000-
Mengapa Isu Ini Menjadi Tren
Ada tiga alasan mengapa isu ini cepat naik di percakapan publik.
Pertama, gelar di Indonesia memuat emosi yang tebal.
Ia bukan sekadar dokumen pendidikan, melainkan simbol perjuangan ekonomi keluarga.
Tak sedikit orang tua menguras tabungan, menjual aset, bahkan berutang agar anaknya menjadi sarjana.
Ketika syarat gelar mulai dikurangi, muncul rasa takut.
Takut pengorbanan itu dianggap tidak lagi bernilai, atau setidaknya tidak lagi menentukan.
Kedua, perubahan terjadi di tengah ketidakpastian kerja.
Pasar kerja yang kompetitif membuat orang mencari pegangan yang paling jelas.
Ijazah selama ini menjadi pegangan itu, karena mudah ditunjukkan dan mudah dibandingkan.
Ketika perusahaan menuntut “bukti kemampuan”, banyak orang merasa aturan menjadi kabur.
Ketiga, teknologi mempercepat jarak antara kampus dan industri.
Berita ini menggema karena banyak orang mengalami langsung kesenjangan itu.
Apa yang dipelajari di ruang kuliah sering terasa tertinggal dari kebutuhan kerja yang bergerak cepat.
-000-
Perubahan yang Terjadi: Bukan Kematian Gelar
Berita ini memantik pertanyaan besar: apakah gelar sudah tidak relevan.
Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.
Yang terjadi bukan kematian gelar, melainkan perubahan posisi gelar dalam sistem perekrutan modern.
Dulu, gelar sering diperlakukan sebagai syarat utama untuk memasuki pasar kerja.
Kini, gelar lebih sering dipakai sebagai salah satu indikator kompetensi.
Ia bukan satu-satunya indikator, dan tidak selalu yang paling menentukan.
Perusahaan semakin menekankan kemampuan nyata yang bisa dibuktikan.
Dalam konteks digital, bukti itu dapat berupa portofolio proyek, pengalaman praktis, atau hasil kerja yang terukur.
-000-
Teknologi sebagai Mesin Penggeser
Perubahan ini didorong oleh perkembangan teknologi yang sangat cepat.
Dunia industri bergerak lebih cepat dibanding kemampuan institusi pendidikan memperbarui kurikulum.
Banyak keterampilan baru lahir dalam rentang waktu yang lebih singkat daripada proses penyusunan kurikulum.
Akibatnya muncul kesenjangan antara yang diajarkan dan yang dibutuhkan.
Di bidang aplikasi, data, dan kecerdasan buatan, kebutuhan kerja berubah dalam hitungan bulan.
Sementara itu, pembaruan kurikulum sering membutuhkan waktu lebih panjang dan proses birokratis.
Di titik ini, ijazah bisa menjadi tanda bahwa seseorang pernah belajar.
Namun, ia belum tentu menjadi tanda bahwa seseorang siap mengerjakan pekerjaan hari ini.
-000-
Data Global yang Menguatkan Pergeseran
Pergeseran ini bukan sekadar perasaan atau anekdot.
Ada data global yang menunjukkan perubahan preferensi rekrutmen.
Laporan yang dikutip Western Governors University menyebut sekitar 86 persen perusahaan di Amerika Serikat menganggap keterampilan lebih penting daripada gelar formal.
Angka itu tidak otomatis berlaku sama di Indonesia.
Namun, ia memberi sinyal arah angin global yang memengaruhi perusahaan multinasional.
Ketika perusahaan global mengubah standar, rantai pasok tenaga kerja ikut terdorong menyesuaikan.
Di negara berkembang, dampaknya terasa lebih tajam.
Karena pendidikan formal selama ini menjadi jalur mobilitas sosial yang paling dipercaya.
-000-
Ijazah sebagai Simbol Sosial di Indonesia
Di Indonesia, ijazah tidak berdiri sendirian.
Ia menempel pada identitas keluarga, status sosial, dan rasa aman.
Dalam banyak rumah, gelar sarjana adalah bukti bahwa kemiskinan bisa dilampaui.
Ia juga bukti bahwa orang tua tidak gagal memperjuangkan masa depan anak.
Karena itu, ketika dunia kerja menurunkan “kesakralan” ijazah, yang terluka sering kali bukan logika.
Yang terluka adalah makna.
Makna tentang pengorbanan yang ingin diakui, dan masa depan yang ingin dipastikan.
-000-
Isu Besar yang Terkait: Mobilitas Sosial dan Ketimpangan
Pergeseran dari gelar ke keterampilan berkaitan dengan isu besar mobilitas sosial.
Jika akses membangun keterampilan tidak merata, ketimpangan bisa membesar.
Gelar selama ini, meski tidak sempurna, memberi jalur yang relatif jelas.
Seseorang masuk kampus, belajar, lulus, lalu melamar kerja.
Ketika jalur itu berubah, muncul pertanyaan baru.
Siapa yang punya sumber daya untuk membangun portofolio.
Siapa yang punya perangkat, waktu, internet, dan jaringan untuk belajar keterampilan yang relevan.
Jika jawabannya hanya kelompok tertentu, perubahan ini bisa menjadi seleksi sosial yang baru.
-000-
Riset sebagai Kacamata: Human Capital dan Signaling
Untuk memahami ini secara konseptual, ada dua cara pandang yang sering dipakai dalam ekonomi pendidikan.
Pertama, pendidikan sebagai “human capital”.
Dalam pandangan ini, sekolah meningkatkan kemampuan produktif seseorang.
Jika dunia kerja menilai keterampilan, maka fokusnya kembali pada kemampuan nyata yang dihasilkan pendidikan.
Kedua, pendidikan sebagai “signaling”.
Dalam pandangan ini, gelar adalah sinyal bagi perusahaan.
Sinyal bahwa seseorang mampu bertahan dalam proses seleksi, disiplin, dan memenuhi standar tertentu.
Ketika perusahaan menemukan sinyal lain yang dianggap lebih akurat, bobot gelar bisa menurun.
Portofolio, uji keterampilan, dan pengalaman praktis menjadi sinyal alternatif.
Perubahan yang diberitakan dapat dibaca sebagai pergeseran alat ukur.
Bukan semata-mata pergeseran nilai manusia.
-000-
Portofolio dan Bukti Kerja: Ukuran yang Lebih Dekat ke Realitas
Di bidang digital, portofolio sering terasa lebih jujur.
Ia menunjukkan apa yang sudah dibuat, bukan hanya apa yang pernah dipelajari.
Perusahaan bisa menilai kualitas, konsistensi, dan cara berpikir melalui hasil kerja.
Itu sebabnya pelamar dengan proyek yang kuat sering dianggap lebih siap.
Bahkan dibanding lulusan dengan indeks prestasi tinggi tetapi minim pengalaman praktis.
Namun, ukuran ini juga memiliki sisi gelap.
Portofolio yang bagus sering memerlukan waktu luang dan akses sumber daya.
Di sinilah negara dan institusi pendidikan diuji.
Apakah mereka mampu menyediakan jembatan agar kesempatan membangun keterampilan tidak menjadi hak istimewa.
-000-
Contoh di Luar Negeri yang Menyerupai
Di luar negeri, pergeseran menuju rekrutmen berbasis keterampilan sudah lama dibahas.
Amerika Serikat sering menjadi rujukan karena banyak perusahaan besar mulai mengurangi syarat gelar untuk peran tertentu.
Diskusi publiknya mirip dengan Indonesia.
Ada kegelisahan tentang utang pendidikan, nilai kampus, dan keadilan akses kerja.
Di beberapa sektor teknologi, sertifikasi dan portofolio berkembang sebagai mata uang baru.
Namun, perdebatan tetap berlangsung.
Karena gelar masih penting untuk profesi tertentu dan untuk jalur akademik.
Pelajaran dari sana sederhana.
Perubahan tidak pernah seragam, dan tidak semua pekerjaan bisa disetarakan hanya dengan kursus singkat.
-000-
Apa Artinya bagi Kampus dan Kurikulum
Berita ini seharusnya dibaca sebagai alarm bagi institusi pendidikan.
Bukan untuk panik, melainkan untuk meninjau ulang janji yang diberikan kepada mahasiswa.
Jika dunia kerja bergerak cepat, kampus perlu lebih lincah.
Kolaborasi dengan industri, proyek nyata, dan magang yang bermakna menjadi semakin penting.
Pendidikan juga perlu menekankan kemampuan belajar ulang.
Karena keterampilan teknis tertentu bisa cepat usang.
Yang lebih tahan lama adalah cara berpikir, etika kerja, komunikasi, dan kemampuan memecahkan masalah.
Gelar dapat tetap relevan jika ia menjadi bukti proses pembentukan kemampuan tersebut.
-000-
Apa Artinya bagi Pencari Kerja dan Keluarga
Bagi pencari kerja, pesan utamanya bukan “kuliah tidak penting”.
Pesan utamanya adalah “bukti kemampuan menjadi semakin menentukan”.
Gelar bisa membantu membuka pintu, tetapi tidak selalu menjaga pintu tetap terbuka.
Portofolio, pengalaman, dan keterampilan yang teruji menjadi penentu langkah berikutnya.
Bagi keluarga, ini momen yang emosional.
Pengorbanan untuk pendidikan tetap bermakna, tetapi bentuk hasilnya perlu dibaca ulang.
Nilai pendidikan tidak hanya di ujung ijazah.
Nilai pendidikan ada pada kemampuan anak bertahan, belajar, dan beradaptasi dalam dunia yang berubah.
-000-
Rekomendasi Menanggapi Isu Ini
Pertama, pemerintah dan institusi pendidikan perlu memperkuat jembatan dari kampus ke kerja.
Program magang, proyek industri, dan pembelajaran berbasis praktik harus dibuat lebih terstruktur.
Kedua, perusahaan perlu transparan tentang standar keterampilan yang dicari.
Jika gelar bukan syarat utama, maka rubrik penilaian keterampilan harus jelas.
Transparansi mencegah rekrutmen berubah menjadi selera yang sulit diawasi.
Ketiga, masyarakat perlu mengubah cara memaknai pendidikan.
Gelar tetap berharga, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya definisi sukses.
Orang muda perlu didorong membangun karya, bukan hanya mengumpulkan tanda lulus.
Keempat, akses belajar keterampilan harus diperluas.
Jika keterampilan menjadi mata uang baru, maka negara harus memastikan semua warga punya kesempatan mendapatkannya.
Tanpa itu, perubahan ini berisiko memperlebar jurang.
-000-
Penutup: Menjaga Martabat di Tengah Perubahan
Pergeseran dari gelar ke keterampilan adalah cermin dari dunia yang bergerak cepat.
Ia bisa menjadi peluang untuk rekrutmen yang lebih adil, jika akses keterampilan dibuat merata.
Ia juga bisa menjadi ancaman, jika hanya menguntungkan mereka yang sudah punya sumber daya.
Indonesia berada di persimpangan yang menuntut kebijakan, keberanian institusi, dan kedewasaan publik.
Di tengah perubahan, satu hal patut dijaga.
Martabat manusia tidak boleh ditentukan oleh selembar kertas, atau oleh satu daftar keterampilan semata.
Martabat lahir dari kesempatan yang adil dan kerja yang bermakna.
Seperti kata Nelson Mandela, “Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat kamu gunakan untuk mengubah dunia.”

