BERITA TERKINI
Ketegangan di Iran Ganggu Pasokan Asam Sulfat Global, Harga Pupuk Berpotensi Naik

Ketegangan di Iran Ganggu Pasokan Asam Sulfat Global, Harga Pupuk Berpotensi Naik

Ketegangan geopolitik di Iran mulai berdampak pada rantai pasok global, termasuk distribusi asam sulfat yang banyak digunakan dalam berbagai industri. Gangguan pasokan bahan kimia ini dinilai berpotensi menekan sektor pupuk dan komoditas lain yang bergantung pada ketersediaannya.

Laporan The Wall Street Journal menyebut konflik di kawasan Timur Tengah memicu lonjakan harga asam sulfat dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan ini terjadi seiring terganggunya produksi dari kilang minyak di kawasan Teluk Persia yang selama ini menjadi salah satu pemasok utama.

Asam sulfat merupakan bahan penting dalam produksi pupuk fosfat serta proses ekstraksi logam, termasuk tembaga. Saat pasokan tersendat, dampaknya dapat merambat ke sektor pertanian dan industri tambang di berbagai negara.

Situasi turut dipengaruhi kebijakan China, produsen asam sulfat terbesar dunia, yang membatasi ekspor untuk menjaga ketersediaan di dalam negeri di tengah ketidakpastian pasokan global. Freda Gordon dari Acuity Commodities menilai pembatasan tersebut langsung mendorong kenaikan harga di pasar internasional. Ia menyebut pasar pupuk berada dalam tekanan ketika pasokan menyusut dan harga bergerak naik.

Analis Argus, Sarah Marlow, memperkirakan negara yang sangat bergantung pada impor asam sulfat akan merasakan dampak paling besar. Chile dan Indonesia disebut sebagai wilayah yang berpotensi terdampak signifikan, terutama pada sektor pertanian dan industri pengolahan mineral.

Sebelumnya, laporan Bloomberg juga menyebut China mempertimbangkan larangan ekspor penuh asam sulfat mulai Mei 2026. Jika kebijakan itu diterapkan, tekanan terhadap harga global diperkirakan semakin kuat.

Di sisi lain, eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari turut memperburuk kondisi. Gangguan pada jalur strategis Selat Hormuz disebut menyebabkan distribusi energi global tersendat, yang pada akhirnya berpengaruh pada produk turunan seperti asam sulfat.

Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga energi dan bahan kimia secara bersamaan, sehingga menambah tekanan inflasi di berbagai negara. Bagi Indonesia, kenaikan harga asam sulfat berpotensi meningkatkan biaya produksi pupuk dan dapat berimbas pada sektor pertanian nasional.

Dengan situasi yang masih dinamis, pelaku industri menghadapi ketidakpastian pasokan dan harga. Jika konflik berlanjut dan pembatasan ekspor diperketat, krisis asam sulfat dikhawatirkan berkembang menjadi persoalan yang lebih luas dan memengaruhi ketahanan pangan serta stabilitas ekonomi global.