Organisasi Maritim Internasional (IMO) melaporkan sekitar 1.500 kapal tertahan di kawasan Teluk menyusul konflik Iran dan Amerika Serikat yang memicu blokade Selat Hormuz. Situasi tersebut juga berdampak pada sekitar 20.000 awak kapal.
Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, dalam Konvensi Maritim Amerika di Panama, Jumat, 8 Mei 2026. Konflik di Timur Tengah disebut pecah setelah serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari.
Dominguez menyatakan eskalasi tersebut memicu gangguan besar terhadap perdagangan global. Iran kemudian melancarkan serangan balasan di kawasan dan memberlakukan blokade pelayaran di Selat Hormuz.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu rute perdagangan energi paling penting di dunia. Sebelum konflik terjadi, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur tersebut.
Penutupan Selat Hormuz kini mengganggu distribusi energi global dan memicu lonjakan signifikan harga minyak dan gas dunia. IMO juga menekankan bahwa sektor pelayaran maritim mengangkut lebih dari 80 persen produk konsumsi dunia.
Dominguez menegaskan para awak kapal yang terjebak merupakan pekerja sipil yang tidak bersalah. Menurutnya, mereka hanya menjalankan tugas untuk mendukung perdagangan internasional, namun kini terdampak situasi geopolitik di luar kendali mereka.
Ia menyebut lebih dari 30 serangan telah terjadi terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut dan menyebabkan sedikitnya 10 pelaut tewas. IMO pun meminta perusahaan pelayaran menghindari pengiriman kapal ke kawasan Teluk guna mencegah bertambahnya korban jiwa serta kerugian ekonomi yang lebih besar.
Di sisi lain, Amerika Serikat sempat merencanakan operasi angkatan laut untuk mengawal kapal-kapal yang tertahan dan mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana itu pada Senin, 4 Mei 2026.
Namun rencana operasi tersebut kemudian dibatalkan. Washington disebut menunggu respons Iran terhadap proposal penghentian perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Krisis di Selat Hormuz kini dinilai menjadi ancaman besar bagi perdagangan internasional dan pasokan energi dunia.