Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan dalam beberapa hari perdagangan terakhir. Optimisme pelaku pasar mulai kembali seiring meredanya tensi geopolitik global dan membaiknya sentimen di kawasan regional.
Pada penutupan perdagangan Kamis (7/5/2026), IHSG ditutup naik 81,85 poin atau 1,15% ke level 7.174,32. Rebound pasar saham domestik ini memunculkan harapan IHSG berpeluang kembali memasuki tren bullish, seiring membaiknya persepsi risiko global, terutama terkait perkembangan konflik di Timur Tengah.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee, menilai sentimen positif pasar saat ini didorong oleh ekspektasi deeskalasi konflik geopolitik. Menurutnya, pelaku pasar mulai melihat Amerika Serikat tidak lagi melanjutkan tekanan agresif terhadap Iran.
“Indonesia sebagai emerging market, memang kita kemarin terkoreksi cukup dalam dibandingkan bursa-bursa lain. Sehingga kalau kita lihat, kalau deescalationnya berakhir, pasarnya segera rebound. Makanya pasar kita segera memulihkan kerugian yang ada,” ujar Hans, Kamis (7/5/2026).
Selain faktor eksternal, Hans menilai fundamental pasar domestik masih cukup kuat. Hal ini tercermin dari kinerja sejumlah emiten sektor energi dan perbankan yang dinilai masih solid sehingga mampu menopang pemulihan IHSG.
Meski demikian, ia mengingatkan investor tetap mencermati risiko yang masih membayangi pasar. Risiko utama dinilai tetap berasal dari perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya terkait jalur perdagangan minyak dunia di Selat Hormuz. Hans menilai, apabila jalur tersebut belum kembali normal dalam waktu lama, pasokan minyak global berpotensi terganggu dan memicu krisis energi dunia.
“Karena rata-rata negara itu cuma punya cadangan minyak strategis tiga bulan. Kalau sudah lebih dari tiga bulan, itu akan jadi masalah,” katanya.
Di sisi lain, Hans juga menyoroti pola musiman perdagangan pada Mei yang secara historis cenderung negatif. Ia menambahkan, pasar masih menanti kemampuan pemerintah menjaga kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah tingginya kebutuhan subsidi energi.
Hans menyarankan pemerintah melakukan efisiensi terhadap sejumlah program prioritas, seperti MBG dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), agar ruang fiskal tetap terjaga dan tidak mengganggu stabilitas ekonomi nasional.
Dalam kondisi pasar saat ini, ia menilai sektor perbankan masih menarik untuk dicermati. Menurutnya, valuasi saham bank-bank besar sudah relatif murah sehingga masih layak dikoleksi investor. Sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar yang disebut menarik antara lain BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI.
Sementara itu, saham-saham sektor energi diperkirakan berpotensi mengalami tekanan apabila konflik Timur Tengah benar-benar mereda dan harga komoditas energi turun. Di tengah ketidakpastian global, Hans juga menilai saham-saham sektor emas masih memiliki prospek jangka panjang yang menarik sebagai aset lindung nilai atau safe haven. Beberapa saham yang disebut antara lain ANTM, BRMS, dan ARCI.
Untuk prospek IHSG ke depan, Hans menilai peluang tren bullish masih terbuka apabila eskalasi konflik global terus mereda. Ia memperkirakan IHSG berpotensi kembali menyentuh level 8.000 pada akhir semester I-2026.