BERITA TERKINI
Emas Naik Sepekan, Pasar Pantau Dinamika Selat Hormuz dan Sinyal Suku Bunga

Emas Naik Sepekan, Pasar Pantau Dinamika Selat Hormuz dan Sinyal Suku Bunga

Harga emas dunia menguat sepanjang sepekan terakhir, didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta meredanya kekhawatiran inflasi setelah sempat muncul kabar pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz di tengah gencatan senjata. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan jalur tersebut kembali ditutup, sehingga pasar kembali mencermati dinamika kawasan.

Pada perdagangan Jumat (17/4/2026), harga emas spot naik 0,85% ke level USD 4.831,61 per ons. Secara mingguan, emas mencatat kenaikan 1,72%.

Penguatan ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah perubahan sentimen global. Pernyataan Menteri Luar Negeri Iran yang menyebut jalur pelayaran tetap berjalan melalui rute terkoordinasi disebut menjadi salah satu katalis yang memengaruhi pasar.

Perkembangan tersebut menekan harga minyak dunia dan meredakan tekanan inflasi, sekaligus membuka ruang bagi ekspektasi penurunan suku bunga. Presiden AS Donald Trump juga menyatakan pembicaraan damai berpotensi berlangsung dalam waktu dekat dan menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan Iran dapat tercapai segera.

Vice President dan Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, menilai pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi faktor krusial bagi pasar. Menurutnya, turunnya harga minyak dapat meredakan kekhawatiran inflasi dan menghidupkan kembali ekspektasi pemangkasan suku bunga, yang pada gilirannya menjadi sentimen positif bagi emas. Ia juga menyebut harga emas berpeluang melanjutkan kenaikan dalam jangka pendek dan kembali menembus level psikologis USD 5.000 per ons.

Seiring perkembangan tersebut, dolar AS dan harga minyak melanjutkan pelemahan. Dolar yang lebih lemah membuat emas relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga meningkatkan daya tariknya di pasar global.

Sepanjang tahun ini, pergerakan emas sempat tertekan setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari. Lonjakan harga energi kala itu memicu kekhawatiran inflasi dan membuat pasar menahan ekspektasi penurunan suku bunga, yang cenderung menekan daya tarik emas.

Dari sisi permintaan fisik, pasar juga menghadapi hambatan. Sejumlah bank di India dilaporkan menghentikan sementara pesanan emas dan perak dari pemasok luar negeri karena belum adanya persetujuan resmi dari pemerintah. Kondisi itu menyebabkan pasokan logam tertahan di bea cukai.

Sementara itu, harga perak turut menguat signifikan. Perak spot naik 3,32% ke USD 80,82 per ons pada Jumat, dan membukukan kenaikan lebih dari 6,30% sepanjang pekan.

Namun, pasar kembali dihadapkan pada perubahan situasi setelah Iran dilaporkan menutup lagi Selat Hormuz pada Sabtu (18/4), hanya beberapa jam setelah sempat membukanya untuk lalu lintas non-militer. Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan jalur perairan tersebut akan tetap berada di bawah kendali militer ketat hingga kebebasan penuh pelayaran bagi kapal-kapal Iran dipulihkan. Keputusan itu diambil dengan alasan Washington belum mencabut blokade lautnya serta masih melanjutkan apa yang mereka sebut sebagai “tindakan pembajakan”.