Ekspor China kembali mencatat pertumbuhan kuat pada April 2026, melampaui perkiraan, meski arus pengiriman sempat terganggu oleh dampak perang di Iran yang memicu ketidakpastian di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan pernyataan resmi Administrasi Umum Bea Cukai China pada Sabtu, 9 Mei 2026, ekspor meningkat 14,1% pada April dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini lebih tinggi dari perkiraan median survei ekonom Bloomberg sebesar 8,4%, serta jauh di atas kenaikan 2,5% pada Maret.
Pada saat yang sama, impor China melonjak 25,3%. Kombinasi kenaikan ekspor dan impor tersebut menghasilkan surplus perdagangan sebesar USD 84,82 miliar.
Perbaikan kinerja pengiriman barang ke luar negeri terjadi setelah perlambatan tajam pada bulan pertama pecahnya perang. Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, serta aksi balasan dari Teheran, disebut memicu kekacauan di Timur Tengah dan wilayah sekitarnya.
Lonjakan impor, terutama pada produk teknologi tinggi seperti cip, sebelumnya sempat menekan neraca dagang. Pada Maret, China mencatat surplus perdagangan terkecil dalam lebih dari satu tahun.
Ketidakseimbangan perdagangan diperkirakan menjadi sorotan menjelang rencana pertemuan puncak di Beijing pekan depan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Data Departemen Perdagangan Amerika Serikat juga menunjukkan defisit perdagangan barang AS terhadap China kembali melebar untuk bulan ketiga pada Maret 2026.
Di tengah situasi tersebut, China terus menyuarakan desakan global untuk menghentikan konflik yang pecah pada akhir Februari 2026.
Penutupan efektif Selat Hormuz turut menekan lalu lintas di jalur perairan energi yang vital. Kondisi ini dinilai berisiko menghambat impor, mendorong kenaikan harga minyak, serta mengancam permintaan asing terhadap barang-barang buatan China.
Meski menghadapi tantangan geopolitik, penjualan luar negeri China pada 2025 mendorong negara itu mencatat surplus perdagangan tertinggi sepanjang sejarah sebesar USD 1,2 triliun. Sementara itu, volume pengiriman sepanjang 2026 disebut sebagian besar tetap berada di atas level rekor tahun lalu, ditopang permintaan global yang kuat terhadap kebutuhan pusat data dan peralatan listrik, seiring lonjakan investasi besar-besaran pada sektor kecerdasan buatan di tingkat global.