WINA — Kehadiran delegasi Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) dalam forum Commission on Narcotic Drugs (CND) ke-69 di Wina, Austria, mendapat dukungan dari diaspora intelektual Indonesia di Eropa. Ketua Umum KAHMI Eropa Raya, Choirul Anam, PhD, menilai partisipasi Indonesia di forum tersebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi negara dalam arsitektur kebijakan global pemberantasan narkotika.
Pertemuan tahunan CND dijadwalkan berlangsung pada 9–13 Maret 2026 di Vienna International Centre. Forum ini mempertemukan pemerintah negara-negara anggota, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta pakar kebijakan publik untuk membahas tantangan global terkait narkotika dan merumuskan respons internasional berbasis kerja sama multilateral.
Anam menyebut kehadiran BNN RI tidak semata partisipasi formal, melainkan bagian dari upaya memperkuat diplomasi kebijakan Indonesia di tengah meningkatnya kompleksitas kejahatan narkotika lintas negara.
“Partisipasi aktif BNN RI di forum CND menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya memandang persoalan narkotika sebagai isu domestik, tetapi sebagai tantangan global yang membutuhkan kolaborasi internasional,” kata Anam dalam pernyataannya, Kamis (13/3).
Menurut Anam, CND memiliki posisi strategis karena menjadi ruang utama di tingkat internasional untuk merumuskan arah kebijakan pengendalian narkotika dunia, termasuk implementasi berbagai konvensi internasional yang berada di bawah koordinasi United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC).
Ia menilai Indonesia berkepentingan untuk terus aktif berkontribusi dalam diskursus global terkait penanganan narkotika. Dengan populasi besar dan posisi geografis strategis di jalur perdagangan internasional, Indonesia disebut kerap menjadi sasaran jaringan narkotika transnasional.
“Karena itu, keterlibatan Indonesia dalam forum global seperti CND sangat penting. Kita tidak bisa menghadapi persoalan narkotika sendirian. Jaringan perdagangan narkotika saat ini bergerak lintas batas negara dengan dukungan teknologi, logistik, dan jaringan keuangan internasional,” ujarnya.
Anam juga menilai pengalaman Indonesia dalam menghadapi kejahatan narkotika dapat menjadi kontribusi penting dalam perumusan kebijakan global. Ia menyebut Indonesia mengembangkan berbagai pendekatan, mulai dari penegakan hukum terhadap jaringan internasional hingga strategi pencegahan berbasis komunitas.
Menurutnya, kombinasi pendekatan keamanan, kesehatan masyarakat, serta edukasi sosial menjadi model kebijakan yang semakin relevan untuk menghadapi dinamika peredaran narkotika modern.
“Indonesia memiliki pengalaman empiris yang sangat berharga. Upaya pemberantasan jaringan narkotika, program rehabilitasi, serta strategi pencegahan berbasis masyarakat adalah praktik yang patut dibagikan dalam forum internasional,” kata Anam.
Sebagai organisasi diaspora yang menghimpun intelektual dan profesional Indonesia di Eropa, KAHMI Eropa Raya memandang diplomasi kebijakan narkotika sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam tata kelola global. Menurut Anam, forum internasional seperti CND bukan hanya arena diskusi, tetapi juga ruang strategis untuk membangun kerja sama lintas batas yang lebih efektif.
Ia menekankan bahwa kejahatan narkotika kini berkembang menjadi salah satu bentuk kejahatan transnasional paling kompleks. Selain berdampak pada kesehatan masyarakat, peredaran narkotika juga disebut berkaitan dengan kejahatan terorganisir, pencucian uang, hingga instabilitas sosial.
“Kejahatan narkotika tidak lagi berdiri sendiri. Ia sering terhubung dengan jaringan kejahatan internasional lain seperti perdagangan manusia, penyelundupan senjata, hingga kejahatan finansial. Karena itu, respons global yang terkoordinasi menjadi semakin penting,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, Anam menilai langkah BNN RI untuk aktif berpartisipasi dalam forum CND mencerminkan komitmen Indonesia memperkuat kerja sama internasional melawan narkotika. Ia juga menegaskan dukungan terhadap diplomasi Indonesia di forum global merupakan tanggung jawab kolektif masyarakat Indonesia, termasuk diaspora.
“Kami di KAHMI Eropa Raya memberikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap langkah BNN RI yang membawa suara Indonesia dalam forum internasional ini. Diplomasi kebijakan seperti ini penting untuk memastikan bahwa kepentingan Indonesia juga tercermin dalam kebijakan global,” katanya.
Anam menambahkan, forum CND Wina 2026 dinilai dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat peran kepemimpinannya dalam isu pemberantasan narkotika di tingkat internasional. Ia menyebut Indonesia berpotensi mendorong inisiatif kolaboratif, khususnya di kawasan Asia dan Indo-Pasifik yang disebut sebagai salah satu jalur perdagangan narkotika terbesar.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi objek kebijakan global. Kita harus menjadi bagian dari negara-negara yang turut merumuskan solusi. Kehadiran BNN RI di CND adalah langkah penting menuju peran tersebut,” ujar Anam.
Ia menilai penguatan kerja sama internasional menjadi kunci menghadapi dinamika baru perdagangan narkotika yang semakin canggih dan terorganisir.
“Melalui forum seperti CND, negara-negara dapat menyelaraskan kebijakan, memperkuat pertukaran informasi, dan membangun mekanisme kerja sama yang lebih efektif. Indonesia harus terus berada di garis depan dalam upaya tersebut,” katanya.
Bagi KAHMI Eropa Raya, partisipasi Indonesia dalam forum global seperti CND Wina tidak hanya mencerminkan komitmen terhadap pemberantasan narkotika, tetapi juga menunjukkan peran aktif Indonesia dalam menjaga keamanan dan kesehatan masyarakat dunia.
“Pada akhirnya, perang melawan narkotika adalah tanggung jawab bersama komunitas internasional. Indonesia telah menunjukkan komitmennya. Kini yang diperlukan adalah memperkuat kolaborasi global untuk menghadapi tantangan yang semakin kompleks,” tutur Choirul Anam.

