Delegasi Indonesia memaparkan konsep “Diplomasi Baru” dalam gelaran YFS 2026 di Jenewa, Swiss. Di hadapan ratusan delegasi dari 120 negara, Beni menyampaikan pidato kunci berjudul “New Diplomacy: The Power of Youth as Bridge-Builders”, yang merangkum gagasan utama dari buku terbarunya, “The Bridge-Builders’ Guide to Diplomacy for a Fragmented World.”
Dalam orasinya, Beni menantang narasi lama yang memposisikan pemuda semata sebagai pemimpin masa depan. Ia menekankan bahwa tantangan global, termasuk etika teknologi dan krisis iklim, membutuhkan penanganan segera.
“Saya tidak melihat pemimpin masa depan di ruangan ini. Saya melihat pemimpin hari ini. Kita bukan lagi penonton sejarah, melainkan arsitek yang harus membangun jembatan di tengah dunia yang terfragmentasi,” kata Beni, yang disambut antusias para delegasi.
Gagasan yang ia sampaikan menyoroti fenomena Perfect Disconnection, yakni kondisi ketika dunia terhubung secara digital, tetapi terputus dalam pemahaman kemanusiaan. Sebagai respons, Beni menawarkan tiga pilar “Diplomasi Baru”.
Pilar pertama adalah Shared Language, yang menempatkan martabat manusia di atas retorika politik. Pilar kedua, Peer-to-Peer Power, menekankan penguatan jejaring pemuda lintas negara. Adapun pilar ketiga, Radical Empathy, menggarisbawahi keberanian untuk mendengar dan memahami sebelum menghakimi.
Dalam rangkaian kegiatan di Jenewa, para peserta juga melakukan kunjungan ke CERN Science Gateway, yang disebut sebagai pusat penelitian sains dan nuklir terbesar di dunia.
Beni Pramula tercatat sebagai Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Forum Komunikasi Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Fokal IMM). Ia juga pernah menjabat Presiden Pemuda Asia-Afrika (AAYG) pada 2015–2020 serta Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) periode 2014–2016.
Buku terbarunya, “The Bridge-Builders’ Guide to Diplomacy for a Fragmented World”, disebut sebagai manifesto diplomasi modern bagi generasi abad ke-21 yang ingin mendorong dialog internasional menjadi aksi nyata.

