BERITA TERKINI
Bitcoin Turun ke USD79 Ribu di Tengah Memanasnya Konflik Iran, Pasar Kripto Tertekan Sentimen Risk-Off

Bitcoin Turun ke USD79 Ribu di Tengah Memanasnya Konflik Iran, Pasar Kripto Tertekan Sentimen Risk-Off

Harga Bitcoin melemah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Aset kripto terbesar di dunia itu turun 2,28 persen dalam 24 jam dan menyentuh USD79.637,54 (sekitar Rp1,36 miliar) pada Jumat, 8 Mei 2026.

Pelemahan terjadi setelah Iran menolak proposal perdamaian dari Amerika Serikat untuk meredakan konflik di kawasan Teluk. Situasi tersebut memicu aksi jual pada aset berisiko di pasar global, termasuk kripto, seiring menguatnya sentimen risk-off di kalangan investor.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai pergerakan Bitcoin kali ini lebih dipengaruhi faktor makro dan geopolitik ketimbang fundamental pasar aset digital. Dalam sehari terakhir, Bitcoin disebut menunjukkan korelasi yang kuat dengan indeks S&P 500 dan emas, menandakan pasar bergerak mengikuti arah sentimen global.

“Penurunan Bitcoin ke area USD79.000 lebih disebabkan oleh lonjakan risiko geopolitik setelah Iran menolak proposal perdamaian dari Amerika Serikat. Ini memicu sentimen risk-off di pasar global, sehingga investor cenderung keluar sementara dari aset berisiko, termasuk kripto,” ujar Fyqieh.

Tekanan jual juga datang dari pasar derivatif. Dalam 24 jam pada hari yang sama, sekitar USD97,53 juta (sekitar Rp1,68 triliun) posisi Bitcoin terlikuidasi, dengan mayoritas berasal dari posisi long atau taruhan harga naik.

Di saat bersamaan, ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus dana keluar (net outflow) sekitar USD268,5 juta (sekitar Rp4,62 triliun). Menurut Fyqieh, kombinasi penurunan harga dan tingginya penggunaan leverage dapat mempercepat tekanan jual.

“Aksi jual yang terjadi bukan hanya berasal dari pasar spot, tetapi juga diperparah oleh likuidasi di pasar derivatif. Ketika banyak posisi long menggunakan leverage tinggi, penurunan harga kecil saja bisa memicu likuidasi berantai dan mempercepat tekanan jual,” katanya dalam keterangan tertulis yang dikutip Minggu, 10 Mei 2026.

Dari sisi teknikal, Bitcoin disebut sempat gagal menembus area resistance di sekitar USD82.800 (sekitar Rp1,42 miliar). Pasar kini mencermati area support penting pada rentang USD78.500 hingga USD78.000.

Jika level tersebut bertahan, peluang rebound menuju area USD82.800 dinilai masih terbuka. Namun, jika harga turun di bawah USD78.000 (sekitar Rp1,34 miliar), risiko koreksi lebih dalam ke area USD76.300 (sekitar Rp1,31 miliar) disebut meningkat.

“Area USD78.500 sampai USD78.000 menjadi zona yang sangat krusial untuk Bitcoin dalam jangka pendek. Selama level ini bertahan, peluang rebound ke USD82.800 masih terbuka. Tetapi jika tembus ke bawah, pasar bisa melihat koreksi lanjutan ke area USD76.300,” ujar Fyqieh.

Meski volatilitas jangka pendek meningkat, Tokocrypto menilai struktur pasar Bitcoin belum sepenuhnya berubah menjadi bearish. Minat institusi disebut masih relatif kuat, tercermin dari arus dana ke ETF Bitcoin spot.

Pada April 2026, aliran dana masuk ke ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat tercatat mencapai USD2,44 miliar (sekitar Rp41,96 triliun), yang disebut menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini. Secara kumulatif sejak 2024, total dana masuk ETF Bitcoin spot mencapai USD58,5 miliar (sekitar Rp1.006,2 triliun).

BlackRock melalui produk IBIT disebut menjadi pemain terbesar dengan kepemilikan sekitar 812 ribu BTC atau setara USD62 miliar (sekitar Rp1.066,4 triliun). Sementara Morgan Stanley melalui produk MSBT yang baru diluncurkan disebut menarik dana sekitar USD163 juta (sekitar Rp2,8 triliun) dalam enam hari pertama.

Data on-chain juga menunjukkan investor besar masih melakukan akumulasi. Wallet dengan kepemilikan lebih dari 1.000 BTC tercatat menambah sekitar 270 ribu BTC dalam 30 hari terakhir, yang disebut sebagai akumulasi bulanan terbesar sejak 2013. Di sisi lain, cadangan Bitcoin di bursa kripto turun ke level terendah dalam tujuh tahun terakhir, yang kerap diartikan sebagai kecenderungan investor menyimpan aset alih-alih menjualnya.

“Kalau melihat data yang lebih luas, minat institusi terhadap Bitcoin sebenarnya belum hilang. ETF masih menjadi indikator penting, sementara data on-chain menunjukkan akumulasi oleh wallet besar masih berlangsung. Jadi, tekanan saat ini lebih mencerminkan reaksi jangka pendek terhadap risiko global, bukan hilangnya keyakinan terhadap Bitcoin,” kata Fyqieh.

Ke depan, pelaku pasar menantikan perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, data aliran dana ETF mingguan, serta arah suku bunga bank sentral AS (The Fed). Perhatian juga mengarah ke pembahasan regulasi aset kripto di Amerika Serikat, termasuk Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY) yang dijadwalkan masuk agenda pemungutan suara Senat pada Juni 2026.

Fyqieh menilai kejelasan aturan dapat menjadi faktor penting untuk mendorong partisipasi institusi yang lebih besar. “Kejelasan regulasi akan menjadi salah satu katalis penting untuk pasar kripto. Jika aturan semakin jelas, investor institusi akan lebih percaya diri masuk ke aset digital karena risiko regulasi menjadi lebih terukur,” ujarnya.

Dalam jangka pendek, Bitcoin dinilai perlu kembali menembus level USD82.000 (sekitar Rp1,41 miliar) untuk membuka peluang penguatan berikutnya. Jika momentum membaik, target selanjutnya disebut berada di kisaran USD90.000 hingga USD98.000. Namun pasar tetap dibayangi risiko apabila tensi geopolitik meningkat atau The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan.

“Bitcoin mulai menunjukkan struktur pasar yang lebih sehat dibanding beberapa bulan lalu, tetapi belum masuk fase aman sepenuhnya. Momentum bullish mulai terbentuk, likuiditas mulai kembali, namun pasar masih sangat bergantung pada kondisi makro dan geopolitik global,” kata Fyqieh.