BERITA TERKINI
BI: Rupiah Tertekan Faktor Global, Harga Minyak Naik akibat Konflik Timur Tengah

BI: Rupiah Tertekan Faktor Global, Harga Minyak Naik akibat Konflik Timur Tengah

Bank Indonesia (BI) menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini lebih dipengaruhi tekanan global ketimbang melemahnya fundamental ekonomi Indonesia.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, jika mengacu pada indikator ekonomi domestik yang dinilai masih solid, nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued atau di bawah nilai fundamentalnya.

“Secara fundamental rupiah itu undervalued,” ujar Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Perry menjelaskan, sejumlah indikator utama menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah gejolak global yang dipicu konflik di Timur Tengah serta tingginya suku bunga Amerika Serikat. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menjadi salah satu yang tertinggi di kelompok negara G20, sementara inflasi tetap rendah dan terkendali.

“Pertumbuhan ekonomi kita tinggi. Inflasi kita rendah, sudah 2,42 persen,” kata Perry.

Ia menambahkan, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus dan cadangan devisa berada pada level yang dinilai memadai. BI mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 mencapai 148,2 miliar dolar AS.

Dari sisi sektor keuangan, Perry juga menyoroti pertumbuhan kredit perbankan yang disebut masih kuat sebagai salah satu indikator positif kondisi domestik.

“Bu Ketua OJK tadi juga menyampaikan kredit tumbuh tinggi. Jadi, secara indikator fundamental ekonomi kita kuat,” tuturnya.

Meski demikian, Perry mengakui rupiah tetap menghadapi tekanan akibat sentimen global yang juga menekan mata uang berbagai negara berkembang. Ia menyebut tekanan utama berasal dari kenaikan harga minyak akibat tensi geopolitik di Timur Tengah, penguatan dolar AS, serta tingginya suku bunga acuan Federal Reserve.

“Faktor globalnya adalah kenaikan harga minyak, tensi geopolitik Timur Tengah, suku bunga Amerika Serikat tinggi, dolarnya juga kuat, dan investor asing lagi outflow dari emerging market,” ujarnya.

Selain faktor eksternal, Perry menyampaikan adanya tekanan musiman terhadap permintaan valuta asing pada April dan Mei, terutama untuk kebutuhan pembayaran utang luar negeri korporasi, repatriasi dividen, serta kebutuhan ibadah umrah dan haji.

BI menyatakan stabilitas rupiah tetap dijaga melalui berbagai langkah intervensi serta koordinasi dengan pemerintah. “Kita jaga tingkat pelemahannya tidak terlalu tinggi dengan langkah-langkah all out tadi,” kata Perry.

Sebelumnya, BI juga menyampaikan telah melakukan intervensi pasar valuta asing secara agresif, termasuk di Hong Kong, Singapura, London, dan New York, guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas pasar global.